Contoh Laporan Wisata “Jam Gadang”


Image 

Oleh :

Celia Dea Audina

1201063017

 

 

 

Politeknik Negeri Padang

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Latar belakang pembuatan laporan ini yaitu untuk memenuhi tugas TTL. Selain itu kami membuat laporan ini atas dasar menambah pengetahuan tentang Jam Gadang di kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia.

Dengan laporan ini, pembaca dapat mengetahui apa saja mengenai Jam Gadang, sejarahnya, lokasinya, dan lain sebagainya.

1.2  Tujuan Studi Wisata

  • Untuk memenuhi tugas TTL.
  • Untuk mengetahui tentang  Jam Gadang.
  • Mengunjungi salah satu objek wisata di Sumatera Barat.
  • Rekreasi sambil belajar.
  • Menambah wawasan tentang objek wisata kota Bukittinggi.

BAB II

PEMBERANGKATAN

1.1  Suasana Pemberangkatan

Kami berkumpul di Simpang Singgalang pada pukul 08.00 WIB. Sebelum keberangkatan kami berdo’a bersama terlebih dahulu agar selamat sampai tujuan.

1.2  Suasana selama dalam perjalanan

Kami berangkat dari Simpang Singgalang tepat pada pukul 08.15 WIB. Disepanjang perjalanan menuju ke kota Bukittinggi kami mengendarai sepeda motor milik pribadi.

Sekitar pukul 10.45 WIB kami sampai di kota Bukittinggi dan langsung menuju RAMAYANA untuk meletakkan motor selama kami melakukan survey ke Jam Gadang.

 

 

 

BAB III

LOKASI WISATA

JAM GADANG

 

            Jam Gadang adalah nama untuk menara jam yang terletak di pusat kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Indonesia. Menara jam ini memiliki jam dengan ukuran besar di empat sisinya sehingga dinamakan Jam Gadang, sebutan bahasa Minangkabau yang berarti “Jam Besar”.

            Selain sebagai pusat penanda kota Bukittinggi, Jam Gadang juga telah dijadikan objek wisata dengan diperluasnya taman disekitar menara jam ini. Taman tersebut menjadi ruang interaksi masyarakat baik di hari kerja maupun di hari libur. Acara-acara yang sifatnya umum biasanya diselenggarakan di sekitar taman dekat menara ini.

1.1  Struktur

            Jam Gadang memiliki denah dasar seluas 13 × 4 meter. Bagian dalam menara jam setinggi 26 meter ini terdiri dari beberapa tingkat, dengan tingkat teratas merupakan tempat penyimpanan bandul. Bandul tersebut sempat patah sehingga harus diganti akibat gempa pada tahun 2007.

            Terdapat empat jam dengan diameter masing-masing 80 cm pada Jam Gadang. Jam tersebut didatangkan langsung dari Rotterdam, Belanda melalui pelabuhan Teluk Bayur dan digerakan secara mekanik oleh mesin yang hanya dibuat 2 unit di dunia, yaitu Jam Gadang dan Big Ben di London, Inggris. Mesin jam dan permukaan jam terletak pada satu tingkat di bawah tingkat paling atas. Pada bagian lonceng tertera pabrik pembuatan jam yaitu Vortmann Relinghausen. Vortmann adalah nama belakang pembuat jam, Benhard Vortmann, Sedangkan Relinghausen adalah nama kota di Jerman yang merupakan tempat produksinya mesin jam pada tahun 1892.

            Jam Gadang dibangun tanpa menggunakan besi penyangga atau adukan semen. Campurannya hanya kapur, putih telur, dan pasir putih.

1.2  Sejarah

Jam Gadang dibangun pda tahun 1926 sebagai hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekertaris atau controleur Fort de Kock (Sekarang kota Bukittinggi). Pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, arsitektur menara jam ini dirancang oleh Yazin Ameh, sedangkan peletakkan batu permata dilakukan oleh putra pertama Rook Maker yang pada masa itu masih berusia enam tahun.

Pembangunan Jam Gadang menghabiskan biaya sekitar 3.000 Gulden, biaya yang tergolong fantastis untuk ukuran waktu itu. Sehingga sejak dibangun dan sejak diresmikan, menara jam ini telah menjadi pusat perhatian setiap orang. Hal itu pula yang mengakibatkan Jam Gadang kemudian dijadikan sebagai penanda atau markah tanah dan juga titik nol kota Bukittinggi.

Sejak didirikan, menara jam ini telah mengalami tiga kai perubahan pada bantuk atapnya. Awal didirikan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, atap pada Jam Gadang berbentuk bulat dengan patung ayam jantan yang menghadap kea rag timur diatasnya. Kemudian pada masa pendudukan Jepang diubah menjadi bentuk klenteng. Terakhir setelah Indonesia merdeka, atap pada Jam Gadang diubah menjadi bentuk gonjong atau atap pada rumah adat Minangkabau, Rumah Gadang.

Renovasi terakhir yang dilakukan pada Jam Gadang adalah pada tahun 2010 oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) dengan dukungan pemerintah kota Bukittinggi dn kedutaan besar Belanda di Jakarta. Renovasi tersebut diresmikan tepat pada ulangtahun kota Bukittinggi yang ke 262 pada tanggal 22 Desember 2010.

1.3  Lebih jauh tentang Jam Gadang

Angka-angka pada Jam Gadang banyak orang-orang maupun media mengatakan memiliki keunikan. Angka empat pada angka Romawi biasanya tertulis IV, namun di Jam Gadang tertera dengan IIII.

Sepintas, mungkin tidak ada keanehan pada bangunan jam setinggi 26 meter tersebut, Apalagi jika diperhatikan bentuknya, karena Jam Gadang hanya berwujud bulat dengan diameter 80 sentimeter, di topang basement dasar seukuran 13 × 4 meter, ibarat sebuah tugu atau monument. Oleh karena ukuran jam yang lain dari kebiasaan ini, maka sangat cocok dengan sebutan Jam Gadang yang berarti Jam Besar.

Bahkan tidak ada hal yang aneh ketika melihat angka Romawi di Jam Gadang. Tapi coba lihat lebih teliti lagi pada angka Romawi keempat. Terlihat ada sesuatu yang tampaknya menyimpang dari pakem. Mestinya, menulis angka Romawi empat dengan symbol IV. Tapi di Jam Gadang malah dibuat menjadi angka satu yang berjajar empat buah (IIII). Penulisan yang diluar patron angka Romawi tersebut hingga kini masih menjadi misteri.

Dari beragam informasi ditengah masyarakat, angka tersebut ada yang mengartikan sebagai penunjuk jumlah korban yang menjadi tumbal ketika pembangunan. Atau ada pula yang mengartikan empat orang tukang pekerja bangunan Jam Gadang yang meninggal setelah jam tersebut selesai.

Berdasarkan Wikipedia, angka IIII bukanlag sebuah keanehan karena sejarah penulisan angka IIII tersebut berdasarkan kepada King Louis XIV ( 5 September 1638 – 1 September 1715) yang meminta kepada seseorang untuk membuatkan sebuah jam baginya. Pembuatan jam member nomor pada setiap jam sesuai aturan angka Romawi. Setelah melihat jam yang diberikan kepadanya, Raja tidak setuju dengan penulisan IV sebagai angka “4” dengan alas an ketidakseimbangan visual.

Menurutnya, angka VIII ada diseberang angka IV, maka ada ketidakseimbangan secara visual dengan VIII yang lebih berat. Oleh karena itu, Louis XIV meminta agar diubah IV menjadi IIII sehingga lebih seimbang dengan VIII yang ada diseberangnya. Selain itu, jika dikaitkan dengan angka XII, maka keseimabangan itu akan lebih baik.

Dari sebuah “situs lain” yang berjudulkan “FAQ : Roman IIII vs. IV on Clock Dials” dapat dilihat disana, seorang yang bernama Milham mengatakan bahwa penjelasan seperti diatas tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, penulisan IIII untuk angka “4” telah ada jauh sebelum Louis XIV. Dari Wikipedia bahwa penomoran Romawi memang bervariasi dari awalnya. Pada masa awal angka “4” memang ditulis IIII dengan empat huruf I.

Lebih lanjut, ada manuskrip ketiga yang menggunakan IX untuk “9” dengan campuran antara IIII dan IV  untuk “4”. Angka “5” juga ditemukan disimbolkan dengan IIIII, IIX untuk “8” dan VV bukannya X untuk “10”.

Kesaksian lain dari situs tersebut, Franks menyatakan bahwa ia tidak pernah melihat jam matahari yang dibuat sebelum abada 19 yang menggunakan angka IV, semuanya IIII. Sehingga, para ahli jam heran dengan arsitek masa ini yang membuat jam menara besar-besar menulis “4” dengan IV, bukan IIII. Salah satu yang menggunakan IV bukan IIII adalah Big Ben. Jadi, implisit dikatakan bahwa Big Ben telah melanggar konvensi per-jam-an.

BAB IV

PERJALANAN PULANG

1.1  Perjalanan Ketika Pulang

Kami pulang sekitar pukul 17.15 WIB dari Kota Bukittinggi menuju Kota Padang. Kami menghabiskan waktu untuk perjalan pulang +- 2 jam. Dan kami tiba di Kota Padang sekitar pukul 19.30 WIB.

1.2  Dokumentasi

 Image

BAB V

PENUTUP

Kesimpulan

Jam Gadang adalah landmark kota Bukittinggi dan Provinsi Sumatera Barat di Indonesia. Simbol khas Sumatera Barat ini pun memiliki cerita dan keunikan karena usianya yang sudah puluhan tahun. Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sultan Gigi Ameh. Perletakkan batu permata jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berusia 6 tahun. Jam ini merupaka hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekertaris Kota).Simbol khas Bukittinggi dan Sumatera Barat ini memiliki cerita dan keunikan dalam perjalanan sejarahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s